Jujur, saya sangat memukul hati kepada Buku sabtu Bersama Bapak untuk pada setiap paragraf yang ada, tersebar banyak sekali nilai-nilai keluarga apa dikemas mencapai cara ringan dan hangat.

Anda sedang menonton: Resensi buku sabtu bersama bapak


*

Kutipan Buku

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambai tangan.“Ini Bapak.Iya, benar kok, ini Bapak.Bapak cuma pindah usai tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.…Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.Tapi, Bapak dengan tegas ingin kalian tumbuh menjangkau Bapak samping kalian.Ingin militer dapat bercerita kepada kalian.Ingin firmicutes dapat mengajarkan kalian.Bapak cantik siapkan.Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah harus bingung setelah mana harus temukan jawaban.I don’t let death bawa pulang these, away from us.I don’t give death, a chance.Bapak ada di sini. Samping kalian.Bapak bayi kalian.”

Ini adalah sebuah monolog pemantik awal apa menyebabkan novel sabtu Bersama Bapak mengiring diri saya untuk menyeduh secangkir kopi lalu meminta memanggang saya untuk membuka halaman berikutnya.

Sinopsis Buku sabtu Bersama Bapak

Berawal dari keluarga small seorang ayah bernama gunawan Garnida yang divonis sakit. Diperkirakan penyakit tersebut membuatnya hanya akan mampu bertahan kehidupan selama satu lima kedepan.

Ia sadar, masih berbohong perjalanan hidup senin anaknya, yang kala itu masih kecil, dan masih diperlukan pemdampingan serta nasihat-nasihat serta nilai-nilai kehidupan dari seorang ayah.


Dari situlah Gunawan luaran inisiatif untuk memanfaatkan setahun berharga tersebut mencapai sebaik-baiknya buat merekam seluruh nasihat, nilai-nilai dan pelajaran yang sekiranya tak sanggup disampaikan seorang ayah kepada anak-anaknya yang akan di atas dewasa, kapan ia meninggal kelak.

Lalu sebuah ideas muncul batin benak. Setiap malam ia bersama istrinya diam-diam merekam banyak sekali video, di saat kedua anak laki-lakinya masih dibius melalui lelap.

Ternyata benar, kira-kira setahun, Gunawan—sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Medang Itje, sang istri, lalu menjalankan wasiat gunawan Garnida: memutar rekaman-rekaman video clip setiap sabtu sore—yang kemudian disambut mencapai sukacita oleh kedua anak lelakinya, Satya dan Cakra.

Kesan nanti Membaca

Jujur, saya sangat bang hati kepada Buku sabtu Bersama Bapak buat pada setiap paragraf yang ada, tersebar banyak sekali nilai-nilai keluarga yang dikemas mencapai cara ringan dan hangat.


Terbukti dari saya yang just membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk mengkhatamkan sabtu Bersama Bapak. Tambahan terasa menyenangkan saat membaca untuk unsur komedi dan sense of jokes apa ada di dalamnya, bahkan untuk membuat saya ngakak-ngakak sendiri sepanjang membaca.

Adhitya Mulya, sang penulis, mendesak sukses untuk membuat pembaca mengabadikan hikmah tanpa harus menggurui dan menceramahi. Saya memanggang sadar, cerita adalah penyimpangan satu cara efektif buat menyampaikan hikmah tanpa harus menggurui dan kesan menceramahi.

Saya tambahan jadi memahami, bahwa karena membuat sebuah karya bagus, dibutuhkan riset yang sangat panjang dan lama. Ia menulis di batin bukunya, dibutuhkan times 36 tahun untuk membuatnya dan dibutuhkan 2 tahun karena menuliskannya.


Novel kelima karya Aditya Mulya ini juga membuat saya menyadari menjadi pentingnya penjadwalan belajar saya dilatih anak di masa depan, tentang cara pilihan pasangan, also tentang menjalani kehidupan dengan cara yang lebih bijak namun militer terasa asyik.

Satu adegan manis yang membuat saya senyum-senyum personally ada pada halaman 174, adegan Cakra tuntutan Ayu karena menjadi istrinya,

“Ayu…” dialah menatap Ayu dalam-dalam. “Terima sayajika kamu melihat bahwa saya adalah perhiasan world dan akhirat yang baik untukkamu.”

“….”

“Karena…..

Lihat lainnya: Niat Baik Belum Tentu Hasilnya Baik, My Brain So Full

kamu adalah perhiasan dunia dan akhirat untuk saya.”Ayu terdiam. Ini adalah kali pertama, Cakra produksi kakinya lemas.