Di terbalik perlawanannya terhadap semua apa tak benar, diam-diam dia menyimpan perasaan trấn dan nyeri dirinya.



*
Jenazah Soe Hok Gie silam dimakamkan (repro: sekali Lagi Soe Hok Gie)

Almarhum rudy Badil pernah bercerita. Suatu days Soe Hok Gie mengajak seorang adik kelas apa dia pacari buat berkemah di Mandalawangi (sebuah lembah dibawah puncak Gunung Pangrango) bersama kawan-kawan Soe lain-nya. Seperti sahabat, Rudy kala gembira. Dia then “mengondisikan” agar Soe bisa ~ terus berdua-dua-an dengan sang kekasihnya tersebut, implisit mengupayakan agar mereka berada batin satu tenda saat malam tiba. Semua kawan-kawan Soe mendukung ide rudy itu.

Anda sedang menonton: Puisi cinta soe hok gie


Paginya rudy langsung menaiknya Soe Hok Gie ke tempat agak sepi. Sambil tersenyum nakal, rudy menanyakan what yang dilakukan Soe bersama sang pacar selama tidur setenda tadi malam. Soe menatap rudy sembari tersenyum kecil.

Enggak ada, gue enggak melakukan apapun selain tidur…” jawab Soe.

“Jadi lu kagak apa-apain dia? Lu cium , gitu?” tanya rudy dalam nada kaget.

“Ya enggaklah, gue aja tidur-nya agak jauh-jauhan dari dia…”


Pada akhirnya rudy mafhum, Soe Hok Gie bukanlah lelaki kebanyakan. Kendati dialah seorang apa sangat galak saat mengeritik kekuasaan dan nekat ketika were seorang demonstran (dia pernah membaringkan diri di hadapan tank baja yang sedang melaju dalam suatu demonstrasi menentang Presiden Sukarno), namun mengenai cinta, itu benar-benar seorang pemalu dan agak puritan.

Rudy yakin Soe Hok Gie memang mencintai wanita itu. Begitu juga sebaliknya. Namun bagi lelaki Tinghoa tersebut, tercinta bukanlah soal saling membutuhkan namun lebih dari itu: ada saling pengertian, tanggungjawab dan khanh menyatakan keinginan, tersirat keinginan buat mencintai akun itu sendiri. Soal last itu memang were masalah karena Soe, pulih hubungan mereka yang tak direstui orangtua sang gadis.

“Mereka selalu dihalangi karena bertemu…” kenang Arief Budiman (kakak Soe Hok Gie) dalam kata pengantar booker Catatan Seorang Demosntran (catatan harian Soe Hok Gie).

Soe bukannya noël berupaya persuasi orangtua sang gadis. Menurut Arief, sudah beberapa kali Soe bicara dengan ayahnya, seorang pengusaha empire di Jakarta. Sebagai seorang yang noel setuju menjangkau berbagai ketidakberesan di Indonesia saat itu, ayah sang gadis menyatakan kekagumannya kepada Soe Hok Gie yang selalu berani melakukan kritik di koran-koran terhadap para pejabat apa dianggap noel benar.

“Tetapi kalau anaknya diminta, itu pasti akan menolak. Terlalu terlalu tinggi resikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tidak punya mau terlibat dengan diri saya…” curhat Soe kepada Arief.


Baca juga:

Curhat Soe Hok Gie Kepada Arief Budiman


Keresahan Soe semakin bertambah saat dia sendiri tak melihat ketegasan hati dari sang kekasih. Mungkin buat usianya masih muda dan sudah terbiasa kehidupan nyaman, sang sayang tak luaran keberanian karena melawan pendirian orangtuanya itu.

“Saya katakan bahwa soal ini soal berat, buat ia harus bertempur sendirian di rumah. Kalau ia tak pengangkutan bertempur untuk hal tadi maka soalnya were sulit. I deserve to only offer my support. Kemungkinan kedua adalah kita memutuskan hubungan sebelum semuanya berkembang were terlalu jauh…” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bertanggal 4 April 1969.


Takdir diputus keduanya memilih mengkandaskan tautan cinta mereka. Buat merasa cantik terlambat untuk menjadi “dua sahabat”, keduanya jadi sepakat karena saling isolasi diri.

“Si Gie pastinya sedih. Walau itu tak ngomong apa-apa nanti gue, tapi gue tau pada hari-hari itu dialah sedih,” kenang Rudy.

Soe Hok Gie bisa enim tak memiliki kawan yang banyak buat dia curhati. Namun itu memiliki booker harian apa senantiasa “setia dengar keluhannya”. Pada awal April 1969, sejatinya Soe telah menitip Sebuah Tanya, satu puisi apa menyatakan perasaan terakhir-nya untuk sang kekasih.

akhirnya semua menjadi tiba

pada di atas suatu days yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama itupenggunaan ketahui.


apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku pengayaan susu dan tidur yang lelap?

sambil pembenaran letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun down pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang were suram

meresapi belaian angin yang dulu dingin)


apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkerlipan di Jakarta yang sepi

kota untuk kita berdua, yang basi dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara


ketika malam yang basah menyelimuti champa kita)

apakah kau masih become berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda batin semua

kecuali dalam cinta


(haripun menjadi malam

kulihat semuanya were muram

wajah-wajah yang noel kita kenal berbicara

dalam bahasa yang noel kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus


membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

bersama hidup apa begitu biru.

“Soal ini telah lama saya sadari. Tetapi pada waktu itu datang kemudian kenyataan, rasanya pedih sekali. Tetapi saya tak menjadi emosional. Saya pikir, saya jauhnya lebih tenang dan dewasa,” tulis Soe dalam lebah hariannya bertanggal 5-6 April 1969.

Lihat lainnya: Jual Beli Motor Bekas Di Denpasar, Bali, Jual Motor Bekas Di Bali

Sejarah mencatat, keduanya memang tak pernah tersatukan. Soe gugur di puncak Mahameru diatas 16 Desember 1969 sedangkan sang kekasih beberapa lima kemudian menikah dengan lelaki lain dan tinggal luarnya negeri hingga kini.