*
" data-medium-file="https://i1.wp.com/www.buycia2.com/wp-content/uploads/2017/12/pintu-kamar-tempat-tidur-.jpg?fit=300%2C188&ssl=1" data-large-file="https://i1.wp.com/www.buycia2.com/wp-content/uploads/2017/12/pintu-kamar-tempat-tidur-.jpg?fit=800%2C500&ssl=1" title="Istri tidak Mau Pulang setelah Rumah, bagaimana itu? Hukumnya? 1">

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Anda sedang menonton: Istri pulang ke rumah orang tua

Saya mau tanya ust, di mana hukumnya seorang istri yang dilarang malalui ibunya buat pulang kerumah suaminya? padahal suaminya dikenal such seorang yang sangat baik dan taat beribadah… dan si istri pun menuruti ibunya daripada suaminya.

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh


HAMBA ALLAH

PERLU diketahui, dalam membina rumah tangga, Islam luaran konsep yang berbeda menjangkau konsep familial menurut Barat, maupun Timur. Berdasarkan penggalian berbagai nas, bisa disimpulkan konsep kehidupan suami istri batin Islam adalah sebagai berikut:


Pertama, hayatnya suami istri adalah kehidupan yang menghasilkan ketenangan. Pergaulan suami istri adalah pergaulan yang full persahabatan;

Kedua, kepemimpinan suami terhadap istri adalah kepemimpinan yang bersifat tanggung jawab ataukah mengurusi, bukan kepemimpinan kemudian seorang penguasa ataukah pejabat;

Ketiga, seorang istri diwajibkan taat, dan seorang suami diwajibkan memberi nafkah yang layak, menurut membakukan kebiasaan;

Keempat, suami istri bekerja secara harmonis batin melaksanakan tugas-tugas rumah tangga;

Kelima, suami berkewajiban mandatnya seluruh tugas-tugas apa dilakukan diluar rumah, sedangkan seorang istri berkewajiban mandat seluruh tugas-tugas yang ada dengan melakukan rumah pantas dengan kemampuannya. Suami diamanatkan menyediakan pembantu dalam kadar yang memadai untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang noël dapat dilaksanakan istri. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, bag. I, hal. 334-340)

Dalam definisi kertas pertanyaan saudara, bisa diuraikan kemudian berikut:

Pada intinya, jika seorang istri keluar tanpa seizin suaminya, maka perbuatannya implisit kemaksiatan, dan dia dianggap berbuat nusyûz (pembangkangan) sehingga noel berhak mendapatkan nafkah dari suaminya. Ibn Baththah menuturkan sebuah riwayat dalam kitab Ahkâm an-Nisâ’ yang bersumber dari Anas ra. Disebutkan bahwa, ada seorang laki-laki bepergian dan suspended istrinya dilepas rumah. Kemudian dikabarkan bahwa ayah wanita itu sakit. Banci itu lantas meminta benar kepada Rasulullah observed agar dibolehkan menjenguk ayahnya. Rasulullah saw then menjawab: “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan janganlah engkau melanggar pesan suamimu.” Allah kemudian menurunkan wahyu kepada Nabi saw: “Sungguh, Aku telah mengampuni feminin itu untuk ketaatan dirinya kepada suaminya.” (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Dar al-Fikr – Beirut, 1405 H, juz VIII, hal. 130). Berdasarkan dalil inilah para fukaha pertemuan bahwa seorang istri dilarang karena keluar rumahnya kecuali seizin suaminya.

Lihat lainnya: Harga Karaoke Happy Puppy Denpasar, Nav Family Karaoke Denpasar Bali

Jika batin pandangan syara’ seorang istri diharamkan keluar rumah tidak punya izin suaminya, lalu bagaimana dengan seorang istri yang menolak pulang rumah, untuk lebih sering dengan ibunya, padahal Islam saya bersedia mengurus istri harus taat kepada suaminya?

Tentunya hal ini berpulang diatas dua hal:


Tidak ada ketaatan kepada intisari (manusia) batin bermaksiat kepada Allah. (HR. Ahmad, 1041, 3694; at-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 14795)

Kedua, jika sang istri tidak mau pulang nanti rumah sang suami, dan tidak punya adanya alasan yang dibenarkan syar’i sedikitpun. Maka di dalam hal ini sang istri telah melakukan keharaman, untuk melanggar dua dalil sekaligus. Dalil wajibnya taat kepada suami dan dalil larangan dilepas rumah tidak punya izin suami. Maka hukumnya jelas haram.

Karena itu seorang suami harus pandai berkomunikasi, sehingga clearly alasan sang istri yang menjadikan ia dengan enggan pulang usai rumah, kerusuhan jika sang istri belum bisa pulang untuk alasan syar’i, namun ia belum bisa berkomunikasi menjangkau suaminya, sehingga sang suami harus bisa ampun dan saling mengerti. Wallahu a’lam. <>